kotak tua di rak paling pojok
Leo paling malas kalau disuruh masuk ke perpustakaan sekolah. Bukan karena dia benci buku, tapi karena perpustakaan SMA-nya terasa kuno dan bau buku yang lembap. Tapi hari itu, dia terpaksa ke sana karena harus mencari referensi tugas Sejarah yang super langka.
Dia nyusruk ke rak paling belakang, di sudut yang gelap dekat jendela yang enggak pernah dibuka. Di sanalah, di balik tumpukan majalah dinding tahun 90-an yang berdebu, tangannya menyentuh sesuatu yang keras dan dingin.
Itu adalah sebuah kotak kayu kecil, ukurannya pas di telapak tangan, warnanya cokelat tua dengan ukiran bunga yang sudah pudar. Dan yang paling aneh, ada gembok kecil yang mengunci kotak itu.
"Wih, apaan nih? Kotak harta karun?" gumam Leo pelan, sambil membersihkan debu dari kotak itu.
Di depannya, Bu Rini, petugas perpustakaan yang terkenal galak tapi aslinya baik, tiba-tiba muncul.
"Leo, kamu cari apa di sana? Jangan bikin berantakan raknya!" tegur Bu Rini, suaranya pelan tapi tegas.
Leo buru-buru menyembunyikan kotak itu di belakang punggungnya. "Ehh, enggak, Bu. Ini... lagi cari buku tentang Pangeran Diponegoro," jawab Leo gelagapan.
Bu Rini menatap Leo curiga, tapi kemudian tatapannya melunak saat melihat kotak itu menyembul sedikit.
"Oh, itu. Kotak tua milik Pak Harun. Bekas guru Kimia kita yang dulu. Sudah puluhan tahun dia taruh di situ," kata Bu Rini sambil berjalan mendekat.
"Isinya apa, Bu? Harta karun ya?" tanya Leo penasaran setengah mati.
Bu Rini tersenyum. "Kunci kotaknya hilang, Leo. Tapi yang saya tahu, itu bukan harta. Itu isinya janji dan penyesalan."
Leo mengerutkan dahi. "Janji dan penyesalan?"
"Ya. Konon, di dalamnya ada surat-surat yang seharusnya Pak Harun kirimkan ke seseorang. Tapi dia keburu takut, lalu menguncinya dan meninggalkannya. Dia bilang, 'Jika ada yang menemukan kotak ini, biarkan dia belajar dari ketakutan yang tersimpan di dalamnya.' Jadi, kalau kamu mau tahu isinya, kamu harus cari kuncinya sendiri," jelas Bu Rini, lalu kembali ke meja kerjanya.
Leo memandang kotak di tangannya. Kotak ini bukan hanya kayu tua, tapi kapsul waktu yang menyimpan sebuah kisah yang belum selesai. Dia jadi berpikir, jangan-jangan ada banyak hal dalam hidupnya yang juga ia 'kunci' karena takut: takut gagal, takut ditolak, atau takut memulai.
Mulai hari itu, Leo punya misi. Bukan mencari kunci fisik kotaknya, tapi mencari tahu, apa sih janji dan penyesalan terbesarnya sendiri? Dia memutuskan untuk berhenti menunda hal-hal yang ia takuti, seperti bicara terus terang pada teman, atau mengirimkan resume ke lomba desain yang ia idam-idamkan.
Kotak itu masih di tangannya, masih terkunci. Tapi di mata Leo, perpustakaan yang tadinya membosankan kini menjadi tempat paling menarik di sekolah, menyimpan misteri yang jauh lebih seru daripada pelajaran Sejarah mana pun.