Pagi itu, Fian merasa sedih karena tidak ada yang mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Di sekolah, Zaki dan Ferlo juga tampak biasa saja. “Mereka lupa, ya?” ucap Fian pelan sambil duduk di bangkunya. Ia pun belajar dengan perasaan kecewa.
Saat jam istirahat tiba, Zaki mendekati Fian.
“Ian, kamu bisa bantu aku ke ruang musik sebentar?” kata Zaki.
Fian mengangguk meski heran. Ketika pintu dibuka, tiba-tiba Ferlo berteriak,
“Selamat ulang tahun, Fian!” Ruangan itu penuh hiasan warna-warni dan kue kecil di atas meja.
Fian terkejut dan matanya berkaca-kaca saat melihat surprais tersebut.
“Kalian ternyata ingat hari ultaku…” ucap haru Fian.
“Tentu, Kami sudah rencanakan dari kemarin,” kata Zaki sambil tersenyum.
Mereka bertiga pun makan kue bersama di ruang musik dan tertawa bahagia. Hari itu menjadi hari ulang tahun paling berkesan bagi Fian karena tidak pernah di rayakan semewah itu.