Namaku Aira. Aku ingin berbagi pengalaman horor yang benar-benar aku alami ketika masih kelas 6 SD, sekitar tahun 2022. Sore itu langit mulai gelap, adzan magrib baru saja selesai berkumandang dari masjid dekat rumah. Udara terasa dingin, suasana di gang rumah sepi. Hanya terdengar suara jangkrik dan beberapa anak kecil yang bercanda sambil berjalan menuju masjid untuk sholat.
Aira keluar rumah untuk membeli sesuatu bersama kakaknya Billal, yang sedang mengeluarkan sepeda motor dari garasi. Setelah motor siap, aku naik ke boncengan. Saat itu, Aira melihat seorang bapak-bapak memakai baju koko hitam dan sarung hitam berjalan dari arah masjid menuju gang rumahku. Dalam hati aku berkata,
“Lho, kok sudah pulang? Bukannya sholat baru mau mulai?”
Aku hampir menyapanya, karena kukira itu tetangga depan rumah yang biasanya tos denganku setiap kali bertemu.
Namun semakin bapak-bapak itu mendekat, suasana jadi aneh. Rasanya bulu kudukku berdiri. Aku dan kakakku Billal menatap tanpa berkedip. Bapak-bapak itu memang mengenakan baju koko dan sarung hitam, tapi... kepalanya terbakar. Ya, aku melihat dengan jelas—kepalanya seperti bara api rokok yang menyala merah-oranye, berasap tipis, dan seolah terbawa angin. Api itu melayang-layang di atas lehernya.
Aira kaku di atas motor. Kakakku Billal juga ikut terdiam, matanya membesar melihat sosok itu. Kami hanya bisa memandangi sosok itu lewat perlahan di belakang kami. Dan tiba-tiba—bapak itu menghilang. Kosong, tidak ada siapa-siapa. Aira dan Billal masih saling diam. Jantungku berdetak kencang. Baru ketika motor berjalan menuju toko, aku memberanikan diri bicara pelan.
Aira: “Mas… kamu lihat nggak, ada bapak bapak berkepala api seperti ujung nya rokok?”
Billal: (kaget, wajahnya serius) “Iya! kamu juga lihat? Udah jangan di bahas di sini. Nanti aja kalau udah sampai rumah, cerita ke bunda.”
Setelah sampai di rumah, kami langsung bercerita kepada Bundanya. Namun, bunda hanya merespons santai sambil berkata,
“Halah, mungkin kalian salah liat. udah buruan cuci tangan cuci kaki, soalnya habis keluar."
Aira tahu kalau bunda memang tidak terlalu percaya hal-hal mistis agar kami tidak kepikiran. Tapi ternyata, diam-diam bunda menghubungi Kak Nadia, anak dari kakaknya bunda, yang dikenal memiliki kemampuan indigo.
Bunda menceritakan semuanya secara detail. Kak Nadia mencoba melihat secara batin. Hasilnya membuatku semakin merinding. Kata Kak Nadia, sosok bapak-bapak kepala api itu benar-benar ada. Ia sebenarnya punya tujuan jahat untuk salah satu rumah di RT kami yang sederet dengan rumahku. Namun tanpa sengaja, aku dan Billal melihatnya sehingga rencananya gagal. Yang lebih menakutkan, kata Kak Nadia, ada sosok lain bernama Miske yang berdiam di atas pohon dekat lapangan samping rumah. Sosok itu seperti “bos” dari bapak berkepala api tadi, dan dia tahu rencana bawahannya gagal.
Kak Nadia menyuruh bunda untuk menyiram garam kasar di sekitar rumah supaya kami tidak diganggu. Malam itu juga, bunda mengambil garam kasar dan menyiramkannya mengelilingi rumah sambil berdoa pelan. Aku dan kakakku melihat dari teras
Aira: “kenapa, mas bunda kok malem malem nyiram garam kasar. kayak mau ngapain aja?”
Aira tertawa kecil mencoba santai, padahal hatiku ketakutan. Setelah selesai, bunda memanggil kami masuk dan menceritakan bahwa yang kami lihat tadi memang benar, sesuai dengan yang dilihat Kak Nadia. Malam itu aku semakin takut. Billal berusaha terlihat tenang agar aku tidak panik, tapi wajahnya terlihat pucat.
Untungnya, setelah kejadian itu tidak ada lagi hal aneh yang kami lihat di rumah. Alhamdulillah, semuanya kembali normal. Namun sampai sekarang, setiap kali aku lewat gang rumahku itu setelah magrib, bulu kudukku masih sering berdiri, mengingat sosok menyeramkan itu sosok berkepala api.