Penulis: bagus gilang pratama

BAB 1 PAYUNG DI HARI ITU


Sore itu, hujan turun deras di halaman SMP Harapan Bangsa. Mada, siswa kelas VIII yang pendiam dan suka membaca, berdiri di bawah atap kantin sambil memeluk tasnya erat. Semua teman-temannya sudah dijemput, sementara ia masih menunggu hujan reda. Udara terasa dingin, dan aroma tanah basah membuat suasana semakin sepi.

Tiba-tiba, Eksan, teman sekelasnya yang ceria dan suka menolong, datang membawa payung biru. “Kamu belum pulang, Da?” tanyanya sambil tersenyum ramah. Mada menggeleng pelan, matanya masih menatap hujan yang jatuh di jalan. “Ayo, aku antar sampai depan gang rumahmu,” ucap Eksan. Setelah ragu sejenak, Mada pun berjalan di bawah payung yang sama, mendengarkan rintik hujan yang menenangkan.

Setibanya di depan rumah, Mada menunduk malu. “Terima kasih ya, Eksan,” katanya pelan. Eksan tersenyum dan menyerahkan payung biru itu. “Simpan saja. Mungkin suatu hari, aku yang perlu kau payungi.” Hujan berhenti, tapi di hati Mada, sesuatu baru saja tumbuh — hangat seperti mentari setelah hujan.