Penulis: Amirah Itfinah Aprillia

Menuju Surganya Semeru


Saat hari libur, Kakak dan Mas mengajak ku pergi ke ranu kumbolo atau biasa disebut surganya gunung semeru. Kami berangkat saat malam masih pekat. Hanya ada cahaya senter kecil yang menuntun langkah di jalur pendakian. Hutan di sekitar terasa sunyi, tapi aku ngga takut, karena ini bukan pertama kalinya aku melakukan perjalanan malam bersama Kakak dan Mas.

 

“Pelan-pelan aja, jalannya licin,” kata Mas di belakangku.

 

Sementara Kakak yang selalu bersemangat malah jalan paling depan.

 

“Kalian lambat banget! Ayo, nanti ketinggalan pemandangan matahari terbit,”.

 

Aku tetap berjalan kecil, menikmati perjalanan, dan menatap bintang-bintang yang menggantung di langit, seolah jadi penonton diam perjalanan kami.

 

Semakin tinggi kami naik, udara semakin dingin. Kami berhenti sebentar di batu besar, meneguk air dan makan roti cokelat.

 

“Masih jauh nggak?” tanyaku.

 

“Lima menit lagi" jawab Mas sambil sarkas dan tersenyum ngeledek.

 

Istirahat sudah cukup, dan kami melanjutkan perjalanan. Sambil berjalan, aku berangan dan membayangkan betapa indahnya besok pagi aku akan melihat danau yang selama ini hanya kulihat di foto.

 

Sekitar tengah malam kami tiba di lokasi camp. Udara dingin langsung menyambut, menusuk sampai kulit. Kami segera mendirikan tenda dan menyalakan api kecil di depan. Mas membuat kopi panas. sementara Kakak sibuk menyiapkan kamera.

 

“Capek nggak, Ra?” tanya Mas.

 

“Capek sih, tapi serunya lebih banyak.” kataku.

 

Kami bertiga duduk bersama, membicarakan hal-hal ringan di bawah langit yang penuh bintang. Tak ada suara lain selain desir angin.

 

Pagi datang dengan cahaya lembut yang menembus kabut tipis. Aku keluar dari tenda, dan di depan sana, Ranu Kumbolo terbentang indah—airnya memantulkan warna emas dari matahari yang baru muncul di balik bukit.

 

“Ra, sini! Foto dulu!” teriak Kakak.

 

Aku berdiri di pinggir danau, tersenyum ke arah kamera. Setelah itu kami duduk bertiga sambil menyantap mie hangat dan menyeruput kopi.

 

“Rasanya kayak mimpi, ya,” kataku pelan.

 

Mas menatap danau sambil tersenyum. Aku menatap mereka berdua—Mas dan Kakak, dan disitu aku sadar, mungkin aku bisa lupa kalau mereka pernah memberiku uang atau makanan, tapi aku tidak akan pernah lupa perjalanan bersama mereka.