Pagi itu, kabut tebal menyelimuti Kastil Aruna. Tiga sahabat.Lila, Damar, dan Nara berjalan perlahan menyusuri jalan berbatu menuju pintu gerbang tua.
“Kau yakin ini tempatnya?” tanya Nara dengan wajah cemas.
Damar mengangguk mantap, “Legenda bilang, di dalam kastil ini tersimpan batu cahaya yang bisa mengabulkan satu permintaan.” ujar Damar
Begitu mereka masuk, suara langkah kaki menggema di lorong gelap. Tiba-tiba, dari balik bayangan, muncul sosok penjaga tua berjubah hitam.
“Siapa yang berani masuk ke wilayah terlarang ini?” suaranya berat dan bergema.
Lila maju selangkah.
“Kami datang bukan untuk mencuri, tapi mencari harapan,” ucapnya dengan berani.
Penjaga itu menatap tajam, lalu tersenyum samar.
Cahaya biru perlahan muncul dari langit-langit kastil, menerangi ruangan megah penuh ukiran. Batu cahaya itu bergetar lembut di atas meja emas.
“Kalian layak mendapatkannya,” kata sang penjaga sebelum menghilang.
Mereka bertiga saling berpandangan, tersenyum bahagia, dan berjanji akan menggunakan keajaiban itu
bukan untuk diri sendiri, melainkan untuk menyelamatkan desanya dari bencana.