Penulis: 9J

Anak-Anak Di Lapangan Hijau


Sore itu, langit mulai berubah menjadi jingga. Angin sepoi-sepoi bertiup melewati lapangan kecil di tengah kampung, tempat anak-anak sering berkumpul setelah pulang sekolah. Suara tawa mereka memenuhi udara, membuat suasana sore terasa hangat dan hidup.

Bima berdiri di tengah lapangan sambil menaruh sandal sebagai tanda garis. “Ayo, kita mulai sekarang!” serunya dengan semangat. Teman-temannya segera merapat, wajah mereka ceria menunggu permainan dimulai.

Mereka membuka sore itu dengan bermain gobak sodor. Garis-garis lapangan dibuat dari ranting dan batu kecil. Rani berlari cepat, melompat ke samping untuk menghindari tangan Rama yang menjaga garis. Teman-temannya menahan napas saat ia bergerak lincah. Ketika akhirnya ia berhasil melewati garis tanpa tersentuh, semua bersorak gembira. Rama tertawa sambil berkata, “Cepet banget kamu, Ran!”

Setelah puas berlari, mereka berpindah ke permainan engklek. Kotak-kotak digambar di tanah dengan kayu kecil. Siti melompat dengan satu kaki, teliti agar tidak menginjak garis. Setiap lompatannya membuat rambutnya bergoyang. Ketika ia berhasil kembali ke titik awal tanpa kesalahan, teman-temannya memberikan tepuk tangan meriah.

Langit perlahan mulai gelap, dan mereka sepakat melanjutkan dengan petak umpet. Dika menjadi penjaga pertama. Ia menutup mata sambil menghitung keras-keras, “Satu… dua… tiga… sampai sepuluh!” Teman-temannya langsung berlari mencari tempat persembunyian terbaik—di balik pohon besar, di dekat tumpukan batu bata, dan ada yang bersembunyi di belakang gubuk kecil. Ketika Dika mulai mencari, mereka menahan napas, berharap tidak ditemukan. Suasana tegang berubah menjadi tawa pecah saat Rani ketahuan karena tak bisa menahan diri untuk tertawa.

Mendekati waktu magrib, mereka menutup permainan dengan lompat tali. Tali karet gelang yang panjang diputar oleh Mia dan Lala, sementara lainnya bergantian melompat. Mereka menyanyikan lagu-lagu kecil yang membuat suasana semakin ceria. Bima semangat sekali melompat tinggi hingga semua berteriak, “Wah, naik level!”

Ketika matahari benar-benar tenggelam, mereka berkumpul di tengah lapangan, terengah-engah tetapi bahagia. Wajah mereka dipenuhi keringat, namun senyum tak hilang dari bibir. Sebelum pulang, Bima berkata, “Besok main lagi, ya!” dan semua mengangguk setuju.

Lapangan kecil itu akhirnya kembali sepi, hanya ditemani angin malam yang perlahan berhembus. Tapi ia tahu, besok tawa anak-anak itu akan kembali menghidupkan suasananya.