Penulis: Ramadhan Elga Excadany

Bab 1


         Sore itu, hujan baru aja berhenti di desa Simo  Angin-Angin. Langitnya mulai cerah lagi, sinar matahari pelan-pelan muncul di balik awan. Tiga sahabat Mira, Bima, dan Lila jalan bareng menuju bukit kecil di belakang desa. Udara masih lembap, tanah becek, tapi mereka tetap ketawa-ketawa sambil bercanda.

“Langitnya bersih banget, ya! Kayak abis dicuci,” kata Mira sambil menatap ke atas. Suaranya ceria banget, bikin suasana makin hangat.

 

      Tapi tiba-tiba, langkah Lila berhenti. Ia menatap ke tanah dengan wajah panik.

“Kalungku… kalung dari Ibu hilang!” katanya setengah berteriak.

Bima langsung jongkok dan mulai mencari di rumput basah, sementara Mira berusaha menenangkan Lila yang hampir nangis. “Tenang, Lil. Coba kita telusuri jalan yang tadi,” ujar Mira pelan.

Namun, setelah dicari ke sana-sini, kalung itu tetap nggak ketemu.

 

    Wajah Lila mulai murung. 

“Itu satu-satunya kenang-kenangan dari Ibu sebelum beliau meninggal…” suaranya lirih banget.

Mira menggenggam tangan Lila, berusaha menenangkannya. Sementara itu, Bima berdiri diam, terlihat kesal sama dirinya sendiri karena nggak bisa bantu. Langit yang tadi cerah mulai tertutup awan, bikin suasana tambah sendu.

Lalu, seolah semesta tahu mereka butuh harapan, sinar matahari muncul lagi dan membentuk pelangi besar di langit. Warna-warnanya begitu jelas dan indah.

“Lihat, pelangi!” teriak Mira.

Di bawah pantulan cahaya itu, sesuatu berkilau di rerumputan. Bima langsung lari mendekat dan memungut benda kecil berwarna emas—kalung Lila!

“Ini, Lil! Ketemu!” katanya dengan wajah lega.

Lila langsung tersenyum lebar sambil memeluk mereka berdua.

 

   “Terima kasih, ya… mungkin Ibu nunjukin lewat pelangi,” ucap Lila dengan suara lembut.

Mira mengangguk, Bima juga tersenyum kecil sambil menatap langit yang kembali cerah. Pelangi itu perlahan memudar, tapi perasaan bahagia di hati mereka nggak ikut hilang. Hari itu mereka belajar, kadang keajaiban datang pas kita paling butuh harapan.