Eka sejak kecil sudah suka bermain warna. Kalau teman-temannya menggambar bunga atau rumah, Eka lebih suka menggambar wajah dan mewarnainya dengan hati-hati. Ia sering meminjam bedak dan lipstik milik ibunya untuk mencoba riasan di depan cermin. Dalam hatinya, Eka punya cita-cita besar — ia ingin menjadi Make Up Artist terkenal suatu hari nanti.
“Ma, boleh pinjam lipstiknya sebentar aja? Aku mau latihan make up,” pinta Eka sambil tersenyum.
Ibunya tertawa kecil. “Hehe, boleh, tapi jangan sampai rusak ya, Nak.”
“Iya, Ma. Aku janji. Aku mau belajar biar nanti bisa jadi MUA hebat!” jawab Eka penuh semangat.
Setiap hari sepulang sekolah, Eka selalu menyempatkan diri menonton video tutorial make up. Ia mencoba setiap langkahnya meski alat make up-nya
masih seadanya. Kadang teman-temannya datang untuk dirias sebelum acara sekolah.
“Eka, tolong dandanin aku dong buat pentas seni,” kata Nadia.
“Siap! Duduk sini ya, aku punya ide make up yang cocok buat kamu,” jawab Eka sambil mengambil kuas kecilnya.
Begitu hasilnya selesai, Nadia tersenyum lebar. “Wah, keren banget! Kamu emang berbakat, Ka!”
Suatu hari, Eka memberanikan diri ikut lomba make up di sekolah. Tangannya bergetar saat mulai, tapi ia ingat mimpinya.
“Tenang, Ka… kamu bisa,” bisiknya pada diri sendiri.
Ketika hasil riasannya diumumkan sebagai juara pertama, Eka tak bisa menahan air matanya.
“Selamat ya, Eka!” teriak teman-temannya.
“Terima kasih, semuanya!” jawab Eka bahagia. Ia tahu, kemenangan itu bukan akhir, melainkan langkah pertama menuju impiannya menjadi MUA terkenal yang bisa membuat banyak orang percaya diri lewat sentuhan kuasnya.