Di Warung Kopi Senja, mesin espresso berdenting lembut di antara obrolan manusia. Di balik meja kasir berdiri Rian, robot barista yang sedang menjalankan misi: memahami emosi manusia. Ia bisa menghitung jutaan data per detik—tapi hari itu, ia belajar bahwa hati tidak bisa diprogram.
Rian dan Emosi Abu-Abu
Rian: “Andi, terdeteksi: sedih, frustrasi, malu. Benar?” tanya Rian ke Andi
Andi: “Hehe, iya. Gagal ujian tuh nyesek.” jawab Andi dengan perasaan malu
Rian: “Emosi tidak bisa diukur ya pasti?” tebak Rian ke Andi
Andi: “Nggak, Rian. Emosi harus dirasain.” tutur Andi ke pertanyaan Rian
tiba-tiba saja Citra datang.
Citra: “Andi, hari ini aku merasa senang tetapi juga merasa cemas.” ucap citra sambil duduk di kursi warung
Rian: “Kamu merasa senang, tapi ada kecemasan?” tanya Rian terheran-heran
Citra: “Betul, promosi bikin aku bahagia sekaligus takut.” jawab Citra ke pertanyaan Rian
Rian: “Jadi emosi bisa paradoks?” tanya Rian dengan nada kurang yakin
Citra: “Selalu.” jawab Citra meyakinkan Rian
Rian: “Jadi kesimpulannya: emosi itu abu-abu.”
Ia menyodorkan dua kopi susu.
Rian: “Ini minumlah, untuk menenangkan perasaan mu.” kalimat Rian dengan tujuan menenangkan perasaan Citra
Andi tertawa melihat tingkah laku Rian.
Andi: “Kamu mulai paham ya Rian.” ucap Andi sambil tertawa kecil
Rian: “Mungkin… inilah yang disebut kehangatan.” jawab Rian dengan penuh keyakinan
Akhirnya, Rian (sebuah robot masa depan) mendapatkan jawaban atas misinya selama ini, dan dia hidup damai bertetangga dengan manusia.