Penulis: 9HEROIC

Robot Warung Kopi


Di Warung Kopi Senja, mesin espresso berdenting lembut di antara obrolan manusia. Di balik meja kasir berdiri Rian, robot barista yang sedang menjalankan misi: memahami emosi manusia. Ia bisa menghitung jutaan data per detik—tapi hari itu, ia belajar bahwa hati tidak bisa diprogram.

Rian dan Emosi Abu-Abu

Rian: “Andi, terdeteksi: sedih, frustrasi, malu. Benar?” tanya Rian ke Andi

 Andi: “Hehe, iya. Gagal ujian tuh nyesek.” jawab Andi dengan perasaan malu

 Rian: “Emosi tidak bisa diukur ya pasti?” tebak Rian ke Andi

 Andi: “Nggak, Rian. Emosi harus dirasain.” tutur Andi ke pertanyaan Rian

tiba-tiba saja Citra datang.

 Citra: “Andi, hari ini aku merasa senang tetapi juga merasa cemas.” ucap citra sambil duduk di kursi warung

 Rian: “Kamu merasa senang, tapi ada kecemasan?” tanya Rian terheran-heran

 Citra: “Betul, promosi bikin aku bahagia sekaligus takut.” jawab Citra ke pertanyaan Rian

 Rian: “Jadi emosi bisa paradoks?” tanya Rian dengan nada kurang yakin

 Citra: “Selalu.” jawab Citra meyakinkan Rian

Rian: “Jadi kesimpulannya: emosi itu abu-abu.”

 Ia menyodorkan dua kopi susu.

 Rian: “Ini minumlah, untuk menenangkan perasaan mu.” kalimat Rian dengan tujuan menenangkan perasaan Citra

Andi tertawa melihat tingkah laku Rian.

 Andi: “Kamu mulai paham ya Rian.” ucap Andi sambil tertawa kecil

 Rian: “Mungkin… inilah yang disebut kehangatan.” jawab Rian dengan penuh keyakinan

 Akhirnya, Rian (sebuah robot masa depan) mendapatkan jawaban atas misinya selama ini, dan dia hidup damai bertetangga dengan manusia.