Penulis: Mahesa Putra Aldino Cahyadi

Kisah Tragis Malam Putih


Novel karya Dostoevsky ini berjudul malam putih. Salah satu novel karya Dostoevsky yang termasuk pendek sekitar 120+ halaman. Novel ini bercerita tentang tokoh utama yang tidak di sebutkan namanya, kita sebut saja pemimpi karna banyak yang menyebut nya begitu. Pemimpi bertemu dengan perempuan bernama Nastenka yang sedang menangis di malam hari.

 

   Semua berawal dari malam ke satu/bab 1 pemimpi yang jalan di malam hari dengan langit yang agak putih berkabut. Dia berjalan, kesepian, merasa bingung di malam itu. Dia bertemu dengan wanita yang menangis di malam itu bernama Nastenka. Pemimpi berusaha menenangkan nya dan bertanya

 

“Kenapa kamu menangis di malam hari?tidak baik untuk perempuan keluar di malam hari” ucap pemimpi

 

“Abaikan aku…masalah ku hanya masalah ringan…” ucap Nastenka

 

 

    Butuh waktu yang lama untuk pemimpi mengungkap mengapa Nastenka menangis, dia mencoba menenangkan Nastenka dengan memberi nya nasihat. Lalu Nastenka akhirnya pun menceritakan mengapa dia menangis.

 

“Aku…aku telah mencintai seseorang dan kami telah berjanji untuk menikah 5 tahun lalu…tapi dia tidak kunjung balik , dia pergi merantau untuk bekerja…” ucap Nastenka sambil terseduh seduh

 

     Pemimpi gugup dan tidak tahu harus bagaimana. Dia hanya menemani wanita itu selama beberapa waktu hingga ia tenang sambil duduk dikursi. 

 

  Pada akhirnya Nastenka curhat soal semua ke gelisahan nya dengan cinta pertama nya itu, pemimpi hanya bisa mendengarkan dan membalas perkataan nya sedikit. Pemimpi juga menceritakan dan merasa bersalah karna dia tidak bisa merespon curhatan Nastenka dengan benar akibat tidak pernah berbicara dengan wanita sebelumnya.

 

   Nastenka tidak mempermasalahkan itu, ia malah sangat berterima kasih pada pemimpi karna sudah mau menemani nya malam itu. Akhirnya, pertemuan mereka akan segera berakhir, namun mereka berjanji untuk bertemu untuk malam seterusnya di tempat yang sama. Namun Nastenka berkata sebelum pulang

 

“Jangan jatuh cinta padaku, aku sudah punya janji dengan seseorang” -Nastenka

 

   Tentu saja, pemimpi mengiyakan nya dan mereka akhirnya pulang. Pemimpi merasa puas karna malam nya yang sepi itu menjadi sedikit berisi karna keberadaan Nastenka.

 

     Mereka bertemu terus menerus setiap malam jam 10 hanya untuk berbicara tentang masalah mereka di kursi yang sama dan pemimpi pun berkata sesuatu pada suatu hari itu. Salah satu perkataan atau mungkin puisi favorit ku

 

“Tangan mu dingin, tanganku terbakar seperti api…sungguh buta kau Nastenka!” ucap pemimpi

 

Nastenka pun terdiam selama beberapa menit lalu akhirnya dia menjawab

 

“Aku paham…kuharap aku juga bisa mencintai mu…”

 

Seakan akan tangan hang dimaksud disini adalah hati si pemimpi dan Nastenka

 

“Aku tau kau akan jatuh cinta padaku, maafkan aku, tapi aku sudah punya janji. Kau tau itu kan?”

 

Mereka pun akhir nya pulang pada saat itu, mungkin Nastenka kecewa. Bahkan besok nya pun Nastenka tidak muncul di tempat itu lagi.

 

    Akhirnya pada malam selanjutnya, Nastenka muncul dan langsung menangis menceritakan tentang ras kesedihan nya lagi dan lagi karna pujaan hatinya tidaak kunjung balik. Pemimpi pun langsung membalas nya dengan saran untuk mengirim surat kepada orang yang dicintai Nastenka walau Nastenka sudah pernah mengirim surat. Pemimpi meyakinkan Nastenka untuk mengirim surat itu. Namun pada pertengahan obrolan mereka, orang yang dicintai Nastenka pun tiba tiba datang. Nastenka pun langsung berlari ke arah orang itu dan mengucapkan selamat tinggal kepada pemimpi itu.

 

   Semua waktu yang telah dihabiskan dengan Nastenka telah berakhir begitu saja. Saling curhat, memberi saran, menceritakan hidup mereka, semua berakhir dan kembali seperti semula. Pemimpi merasa kesepian lagi dan hampa karna ke tidak hadiran Nastenka. Mereka tidak bertemu sampai bertahun tahun hingga Nastenka mengirimkan surat kepada pemimpi. Di surat itu, Nastenka menulis dengan penuh kehangatan. Ia meminta maaf karena sudah tak bisa menemui Dreamer lagi. Lelaki yang dulu ia nantikan akhirnya datang kembali, dan ia memutuskan untuk bersamanya. Ia berterima kasih atas semua waktu yang telah Dreamer berikan.Malam-malam penuh obrolan yang membuatnya merasa hidup dan dimengerti. Ia berharap Dreamer juga menemukan kebahagiaan dan tidak menyimpan kepahitan terhadapnya. Nada suratnya lembut, tulus, dan penuh penghargaan, walau mengandung sedikit rasa sedih karena harus berpisah.

 

Dreamer yang malang dan terlalu berharap untuk dicintai…