Penulis: Atichah NoerFatur Jannah

Nina Bobo


"Kak, katanya kita enggak boleh nyanyiin lagu Nina Bobo pas malam hari," ucap adik perempuan ku yang masih berusia sepuluh tahun.

 

"Emang kenapa? Hantu lagi?" tanyaku yang sudah mengetahui arah pembicaraan adikku si Reni, ia selalu saja bercerita tentang hantu dan membuatnya selalu membahas hal-hal berbau mistis.

 

 "Iya Kak." Reni hanya menyengir, karena aku dapat menebaknya.

 

 "Tapi kali ini Reni serius loh Kak tentang lagu Nina Bobo itu, kalo kita nyanyikannya malam-malam, nanti ada arwah anak kecil yang bakalan datang”

 

 "Itu cuma mitos Ren, kok kamu masih percaya sih sama hal begituan.Udah sana masuk kamar terus belajar, besok 'kan ada ujian, dari pada cerita yang enggak berguna gini," ucapku yang memang tipe orang tidak percaya akan hantu,

Hal ghaib dan hal mistis lainnya, menurutku itu semua mitos atau takhayul. 

 

"Ihh Kak Dira enggak percayaan deh, awas jangan dinyanyiin lagunya," ingatnya, seraya pergi masuk kedalam kamar dan kini aku hanya sendirian duduk di ruang tamu sambil memainkan ponsel.

 

°°°°°°°°°°°°

 

Aku pun mulai menyanyikannya dengan pelan, seraya berjalan kearah jendela kamarku yang gordennya sedikit terbuka.

 

 Nina Bobo…

Oh Nina Bobo Kalo tidak bobo digigit nyamuk... Nina Bobo... 

Oh Nina Bobo Kalo tidak bobo digigit nyamuk... 

 

Aku pun menyanyikannya lagi berulang kali, namun hasilnya nihil tidak ada apapun yang terjadi.

 

 Bahkan yang katanya arwah anak kecil akan datang jika lagu ini dinyanyikan, dimana? dia tidak ada, sudah ku bilang itu semua hanya mitos. Aku menertawakan diriku sendiri karena hampir percaya dengan cerita adikku yang masih kecil. 

 

Aku kembali membaringkan tubuhku diatas kasur dan menarik selimut sampai keatas leherku.Ku rasakan Udaranya tiba-tiba saja menjadi dingin secara drastis.

 

Tok...tok..tok.. 

 

Kudengar suara pintu kamarku diketuk oleh seseorang, ku pikir itu Reni atau Ibu, jadi aku memanggilnya.

 

 "Reni?" 

"Bu?" 

 

Namun tidak ada sahutan sama sekali dan ku lihat pintu kamar masih tertutup dengan rapat. 

 

Akhirnya aku beranjak dari kasur dan berjalan kearah pintu untuk membukanya. Setelah ku buka, aku tidak melihat siapapun yang berdiri di depan kamarku.

 

Justru aku mencium aroma bunga melati yang pekat menyeruak masuk kedalam kamar. Aku mulai merinding dan merasa sedikit takut, aku juga merasakan seperti ada yang meniup tengkukku. 

 

"Kayaknya aku berhalusinasi," gumamku dan kembali menutup pintu. 

 

CLEK.

 

Lampu ruang kamarku tiba-tiba saja mati, dan dengan waktu yang sama, ku dengar langkah kaki seseorang berada di dalam kamarku. Suara langkah itu semakin mendekat, aku pun mundur beberapa langkah hingga ke pojok dinding. Dan disitulah aku melihat bayangan hitam yang melintas dengan cepat di hadapan ku.

 

 "Siapa itu?" tanyaku sedikit keras.

 

 Hening, tak ada jawaban atau suara apapun, lampu kembali menyala, aku kembali bernafas lega dan sedikit merasa tenang. 

 

Tetapi ketenangan tidak berlangsung lama, ketika aku merasakan ada yang menggenggam tanganku dan terdengar pelan suara anak yang menyanyikan lagu Nina Bobo.

 

Demi Tuhan badanku bergemetar hebat, keringat dingin bercucuran di keningku. Detak jantungku berpacu dengan cepat.

 

Ku beranikan diriku menoleh kearah samping untuk melihat siapakah yang menggenggam tanganku, dan ku lihat seorang anak kecil menyeringai ke arahku dengan wajah yang sangat mengerikan.

 

Satu matanya hilang, mulutnya robek dengan darah yang terus menetes kelantai dan tak lupa belatung yang saling menggeliat menggerogoti mulutnya itu.

 

 Aaaakkkhh.... 

 

Aku berteriak kencang karena ketakutan, dengan sekuat tenaga aku menarik tanganku dari genggaman hantu anak kecil.

 

Tapi nihil, aku tidak bisa melepaskannya. Justru anak itu yang menarikku lebih kuat dan menuntunku berjalan kearah jendela, aku terus meronta ronta untuk melepaskan genggaman tangannya. 

 

Nina Bobo... Ooh Nina Bobo

Kalo tidak bobo di gigit nyamuk. 

 

Anak kecil itu menyanyikan lagu Nina Bobo dengan pelan dan seketika aku berhenti meronta, ntah dorongan dari mana aku justru mengikuti langkah anak kecil itu dengan tatapan kosong. 

 

"Kamu mau ikut sama aku?" tanyanya dan aku hanya mengangguk pelan sebagai jawaban. 

 

Kemudian ia menyuruhku untuk melompat dari jendela kamarku.Aku terdiam sejenak melihat jarak antara jendela dengan lantai dasar sangat jauh dan tinggi, karena kamarku

 

"Ayo lompat sekarang," ajaknya dan aku mengangguk untuk kedua kalinya. 

 

Namun saat kaki ku mulai naik ke atas jendela, terdengar samar-samar seseorang yang memanggil namaku. 

 

"Diraa..."

 "Kak Diraa..." 

"Diraaa... Berhenti Nak!" 

 

Dan disitulah aku mulai tersadar kembali, anak kecil itu tiba-tiba menghilang begitu saja dari pandangan ku. 

 

"Dira apa yang kamu lakukan nak?" tanya ibuku dengan khawatir sambil memeluk tubuhku dan membawaku menjauh dari jendela. Sedangkan Reni memberiku air minum untuk menenangkan ku.

 

Dan semenjak kejadian itulah aku tidak pernah menyanyikan lagu Nina Bobo lagi, sekarang aku juga percaya bahwa dunia lain, hantu dan hal ghaib itu benar-benar ada, bukan hanya sekedar cerita mitos. Untung saja waktu itu Ibu dan Reni segera datang menyelamatkan ku. Jika tidak, mungkin

aku sudah mati karena hantu anak kecil yang menyanyikan lagu Nina Bobo itu.

 

TAMAT