Penulis: cerelia evelin fadilah

DIA YANG SALAH PAHAM . 𝛝𝛠


Aduhh,kenapa.. semuanya jadi ginii sihh.. batinku

              Dia yang Salah Paham

Entah kenapa akhir-akhir ini suasana jadi aneh banget.

Temanku, Nia, tiba-tiba berubah. Dulu kita deket banget ke mana-mana bareng, sering cerita hal-hal pribadi, saling sharing cerita. Tapi sekarang, dia bahkan nggak mau nyapa aku. Katanya, aku yang nyebarin rahasianya ke orang lain.

Padahal aku nggak pernah.

Sedikit pun nggak.

Awalnya aku cuma diam. Aku pikir nanti juga dia sadar sendiri, kalau semua itu cuma salah paham. Tapi ternyata, dia malah makin jauh. Aku denger dari teman-teman lain, dia bilang aku pengkhianat. Sakit banget rasanya denger itu, apalagi dari orang yang dulu aku anggap sahabat.

Hari itu aku mutusin buat ngomong langsung sama dia. Aku capek dituduh tanpa bukti.

Aku:

“Nia, aku pengen kamu denger dulu dari aku... Aku nggak pernah nyebarin apa pun.. tentang kamu.”

Nia :

“Tapi orang-orang udah tahu rahasiaku!, dan cuma kamu yang tahu!”berkata dengan nada tinggi

Aku:

“Itu bukan bukti,nia. Aku juga kaget waktu gosip itu nyebar. Aku malah sempet mikir?.., siapa yang sebenarnya ngomong duluan…”

“Dia diam. Aku lihat wajahnya agak berubah, tapi masih keras menuduh aku yang menyebarkan gosip…” batinku

Aku :

“Aku nggak nyangka kamu bisa secepat itu nuduh aku?... Padahal aku selalu jaga semua yang kamu percayain ke aku lohh.”

Nia (pelan):

“…Aku cuma ngerasa kecewa. Aku pikir kamu yang.. ngomong...”

Aku:

“Kalau kamu kecewa, aku ngerti

... Tapi setidaknya tanya dulu ke aku, jangan langsung nuduh. Aku nggak pernah punya niat jahat ke kamu...”

Suasana jadi hening. Hanya ada suara angin sore yang lewat pelan.

Nia akhirnya menunduk, suaranya pelan banget waktu bilang,

“Maaf… aku salah udah mikir yang nggak-nggak.. dan bikin pertemanan kita hancur karna gosip itu..”

Aku cuma senyum kecil, meski di dalam hati masih agak sakit.

“Nggak apa-apa,nia. Aku cuma pengen kamu tahu kebenarannya..”

Malamnya aku mikir, kadang orang yang paling kita percaya justru bisa nyakitin tanpa sadar.

Bukan karena mereka jahat, tapi karena mereka lebih cepat percaya pada omongan orang lain daripada kejujuran kita.

Tapi aku lega setidaknya sekarang dia tahu yang sebenarnya.

Sejak hari itu, hubungan kami perlahan membaik. Meski mungkin tidak bisa kembali sepenuhnya seperti dulu, setidaknya kami sudah saling memahami.