Penulis: Alifa Nadia Husna

Bab 1


Sore itu, Nadia duduk di beranda bersama ayahnya yang sedang menatap langit jingga. “Lihat, Nad. Langit senja itu hasil lukisan malaikat,” kata Ayah sambil tersenyum. Ibu muncul membawa teh hangat, lalu duduk di samping mereka. Sejak kecil, Nadia selalu percaya pada cerita-cerita ayah, tapi kini, saat ia beranjak remaja, cerita itu mulai terdengar seperti dongeng belaka.

 

  Suatu sore, ketika ayah kembali bercerita tentang pelangi yang muncul karena malaikat sedang menumpahkan catnya, Nadia mendesah. “Ayah, aku sudah besar. Aku tahu itu cuma bohong,” katanya pelan. Ayah terdiam, dan suasana menjadi hening. Ibu hanya menatap mereka berdua dengan mata yang teduh, seolah tahu hati salah satu dari mereka baru saja terluka.

 

  Beberapa hari kemudian, Nadia menemukan buku catatan tua milik ayah di meja kerja. Di dalamnya tertulis: “Aku ingin anakku selalu melihat dunia dengan hati yang penuh warna.” Air mata Nadia menetes. Ia berlari ke beranda, memeluk ayah, dan berbisik, “Maaf, Yah. Cerita Ayah ternyata sungguh indah.” Ayah tersenyum, menatap langit senja, dan berkata lembut, “Dan kini, kau sudah bisa melihat warnanya, Nak.”