M
Langit malam di negeri Land of Dawn selalu tampak menakjubkan. Ribuan bintang berkelap-kelip, menyinari bumi dengan cahaya lembut yang dipercaya sebagai roh para pahlawan masa lalu. Setiap orang di negeri itu percaya bahwa selama bintang-bintang masih bersinar, dunia akan tetap aman dari kegelapan. Namun, beberapa bulan terakhir, cahaya bintang mulai meredup satu per satu. Orang-orang memandang ke langit dengan wajah cemas, takut akan legenda lama yang mengatakan bahwa ketika bintang terakhir padam, kegelapan abadi akan bangkit dan menelan seluruh dunia.
Di antara ketakutan itu, di desa kecil bernama Cadia, hiduplah seorang anak yatim bernama Astra. Ia baru berusia tiga belas tahun, tubuhnya kurus dan kecil, rambutnya acak-acakan, dan matanya memancarkan rasa ingin tahu yang tak pernah padam. Ia tinggal sendirian di pondok tua di tepi padang rumput, menghidupi diri dengan menggembala domba milik tetangganya. Meskipun sering diejek oleh teman-teman sebayanya karena lemah dan miskin, Astra tidak pernah benar-benar membenci mereka. Dalam hatinya, ia hanya ingin membuktikan bahwa dirinya juga bisa berarti bagi dunia.
Setiap malam, Astra duduk di bukit kecil di belakang desanya dan menatap ke langit. Ia suka membayangkan bagaimana rasanya menjadi pahlawan seperti para bintang yang bersinar di atas sana. Kadang, ia berbicara pada bintang-bintang itu seolah mereka mendengarkan. “Jika kalian benar-benar roh para pahlawan,” katanya pelan, “tolong beri aku tanda... sesuatu yang membuatku tahu bahwa aku tidak sendirian di dunia ini.” Kalimat sederhana itu menjadi doa yang ia ulang setiap malam sebelum tidur.
Hingga pada suatu malam yang sunyi, ketika ia sedang menggiring domba pulang, langit tiba-tiba terbelah oleh cahaya yang begitu terang. Cahaya itu seperti bintang jatuh, meluncur cepat dan menabrak hutan di pinggir desa. Suara dentumannya menggema di udara, membuat seluruh kawanan dombanya berlari ketakutan. Astra menatap arah jatuhnya cahaya itu dengan mata membelalak, jantungnya berdebar keras. Ia tahu betul bahwa itu bukan bintang biasa—sesuatu di dalam dirinya seperti memanggilnya untuk pergi ke sana.
Dengan langkah hati-hati, Astra memasuki hutan yang gelap dan sunyi. Udara di dalamnya terasa berbeda, dingin dan penuh energi aneh yang membuat bulu kuduknya berdiri. Di tengah kabut tipis, ia melihat cahaya yang memancar dari balik semak-semak. Saat ia mendekat, matanya membulat: di hadapannya berdiri sebuah pedang yang menancap di tanah, bilahnya memancarkan sinar lembut seperti bintang yang hidup. Tanpa berpikir panjang, Astra mendekat dan menyentuh gagang pedang itu. Seketika, cahaya menyala terang, dan suara lembut namun dalam bergema di pikirannya, “Engkaulah yang terpilih, pembawa cahaya bintang.”
Astra menatap pedang bercahaya itu dengan mata penuh takjub. Cahaya putih keperakan yang terpancar dari bilahnya menerangi pepohonan di sekeliling, membuat hutan gelap tampak seperti diselimuti bintang-bintang kecil. Namun sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, tanah di sekitarnya bergetar pelan, dan kabut tebal mulai menggulung dari balik pepohonan. Suara aneh seperti bisikan bergema di udara, membuat jantung Astra berdegup cepat.
Dari balik kabut itu, muncul sosok tinggi besar dengan mata merah menyala. Tubuhnya hitam legam, seolah terbuat dari bayangan pekat yang terus bergolak. Suara raungannya membuat udara bergetar, dan langkahnya yang berat mengguncang tanah. Astra ingin lari, tapi kakinya terpaku. Ketakutan menahan napasnya, membuat ia hanya bisa memeluk pedang yang kini menempel erat di tangannya, seolah enggan dilepaskan.
Makhluk itu mengangkat lengannya, siap menerkam. Dalam refleks panik, Astra mengayunkan pedangnya ke depan. Saat itu juga, cahaya bintang yang sangat terang meledak dari bilah pedang, menyilaukan seluruh hutan. Suara dentuman menggema, dan makhluk itu menjerit sebelum tubuhnya meledak menjadi debu hitam yang terbawa angin. Astra terduduk lemas, napasnya tersengal, matanya masih memandangi pedang di tangannya yang kini bergetar lembut seolah hidup.
Ia tak tahu berapa lama ia duduk di sana, mencoba memahami apa yang baru saja terjadi. Tangannya gemetar, tetapi di dalam hatinya ada sesuatu yang baru—perasaan hangat, seperti cahaya kecil yang menyalakan keberanian. Pedang itu tidak menakutkan; justru terasa seperti teman yang datang untuk melindunginya. Astra menggenggam gagangnya erat, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa penting.
Saat fajar tiba, Astra berjalan pulang dengan langkah pelan. Hutan yang tadi menakutkan kini tampak tenang, seolah berterima kasih kepadanya. Namun, jauh di balik sinar mentari pagi, sebuah mata merah mengintai dari bayangan, memperhatikan bocah yang kini membawa cahaya bintang. Dunia seakan mulai bergerak menuju takdir baru, dan Astra tidak menyadarinya.
Keesokan harinya, seluruh desa Cadia digemparkan oleh cahaya besar yang terlihat dari hutan pada malam sebelumnya. Para tetua desa berdiskusi serius di balai pertemuan, membicarakan legenda lama tentang “Pedang Bintang,” senjata suci yang hanya akan muncul ketika dunia terancam kegelapan. Astra, yang masih bingung dengan apa yang ia alami, memilih untuk diam. Ia takut orang-orang akan menganggapnya gila jika menceritakan yang sebenarnya.
Namun, malam itu, saat ia hendak beristirahat, terdengar ketukan lembut di pintu pondoknya. Ketika dibuka, berdirilah seorang perempuan berjubah biru dengan rambut panjang keperakan dan mata berwarna ungu muda yang lembut namun tegas. Ia memperkenalkan diri sebagai Sasha, penjaga Pedang Bintang. Suaranya tenang namun penuh wibawa, dan ketika ia menatap Astra, anak itu merasakan seolah seluruh rahasianya terbaca.
Sasha menjelaskan bahwa Pedang Bintang telah memilih Astra sebagai pewarisnya. Hanya ia yang bisa mengendalikan pedang tersebut, karena cahaya bintang merespons kemurnian hati, bukan kekuatan fisik. Astra mendengarkan dengan campuran takut dan bingung. Ia hanyalah anak desa biasa, tak punya kemampuan apa pun. Namun Sasha tak memberi kesempatan baginya untuk menolak. Dengan gerakan lembut, Sasha membuka gulungan cahaya dan menampilkan penglihatan mengerikan langit hitam tanpa bintang, tanah retak, dan Cadia yang terbakar api kegelapan.
Astra menatap penglihatan itu dengan mata membelalak. Di sana, ia melihat dirinya berlari tanpa daya, sementara bayangan besar menelan rumah-rumah dan suara tangis memenuhi udara. Tubuhnya gemetar, dan air mata menetes tanpa ia sadari. Sasha menatapnya dengan penuh belas kasih, lalu berkata pelan, “Jika kau tak melangkah, semua yang kau cintai akan lenyap.” Kalimat itu menusuk hati Astra lebih dalam daripada apa pun.
Malam itu juga, Astra memutuskan untuk menerima takdirnya. Ia berkemas dengan tangan gemetar, hanya membawa pakaian seadanya dan jimat kecil pemberian kepala desa sebuah simbol perlindungan dan harapan. Beberapa warga menatapnya dengan heran, bahkan mengejek, menganggapnya bermimpi menjadi pahlawan. Namun kepala desa menepuk bahunya dengan bangga. “Langit tak akan memilih sembarang bintang untuk bersinar,” katanya lembut. Astra pun melangkah pergi, meninggalkan desanya yang tenang menuju dunia yang menunggu dalam gelap.
---
Halaman 4
Perjalanan mereka dimulai saat matahari baru saja terbit di balik pegunungan. Udara pagi terasa dingin, dan kabut menutupi jalanan batu yang membentang di antara hutan-hutan lebat. Astra berjalan di belakang Sasha, memandangi jubah biru sang penjaga yang berkibar lembut tertiup angin. Ia belum terbiasa dengan keheningan perjalanan mereka, namun ada sesuatu dalam langkah Sasha yang menenangkan, seperti irama lagu yang menjaga hatinya tetap tenang.
Sesekali, Sasha menjelaskan tentang dunia di luar Cadia. Ia bercerita tentang kerajaan Moniyan yang megah, tentang menara kristal yang menyimpan cahaya bintang, serta tentang tempat-tempat di mana kegelapan mulai muncul kembali. Astra mendengarkan dengan penuh rasa ingin tahu, meski sebagian dari dirinya masih merasa kecil dan tidak pantas berada di sisi penjaga agung seperti Sasha. “Aku cuma anak desa,” katanya lirih. Sasha tersenyum tipis dan menjawab, “Bahkan bintang paling terang pun dulu hanyalah titik kecil di langit, Astra. Semua cahaya besar bermula dari sesuatu yang kecil.”
Hari-hari pertama terasa berat. Mereka harus melewati hutan-hutan yang gelap dan lembah yang dipenuhi kabut tebal. Suara serigala malam dan bisikan angin sering membuat Astra ketakutan. Namun setiap kali ia hampir menyerah, Pedang Bintang yang tergantung di pinggangnya memancarkan cahaya lembut, seolah menguatkan hatinya. Ia mulai menyadari bahwa pedang itu seakan hidup, merasakan setiap ketakutan dan keberaniannya.
Suatu malam, mereka beristirahat di tepi sungai yang jernih. Sasha duduk bersila sambil menatap air yang memantulkan cahaya bulan. “Astra,” katanya, “Pedang Bintang bukan sekadar senjata. Ia adalah kunci yang membuka kekuatan hatimu sendiri.” Astra menatap pedang di tangannya, memandangi pantulan wajahnya di bilahnya yang berkilau. “Bagaimana caranya aku tahu kekuatanku sendiri?” tanyanya ragu. Sasha tersenyum, “Kau tak perlu tahu sekarang. Kau hanya perlu percaya.”
Malam itu, Astra mencoba bermeditasi seperti yang diajarkan Sasha. Ia menutup mata dan merasakan aliran cahaya hangat dari pedang ke dadanya. Perlahan-lahan, ia mulai mendengar bisikan samar suara yang sama seperti di hutan malam itu. Suara itu tidak menakutkan, melainkan menenangkan, seperti nyanyian bintang yang menyapa. Ia membuka matanya dengan perasaan hangat di dada. Untuk pertama kalinya, Astra merasa bahwa cahaya bintang benar-benar hidup di dalam dirinya.
Hari-hari berikutnya mereka habiskan dalam perjalanan panjang menuju perbatasan Moniyan Empire. Di sana, kabut hitam mulai menelan langit, dan para penjaga kota sering memperingatkan tentang makhluk bayangan yang menyerang para pelancong. Meski takut, Astra menolak berhenti. Ia tahu bahwa langkah kecilnya kini berarti bagi dunia yang lebih besar.
Namun, malam itu mereka diserang oleh kawanan makhluk bayangan di lembah sempit. Jumlahnya puluhan, bergerak cepat dan memancarkan suara desis mengerikan. Sasha segera memanggil sihir bintang, menciptakan lingkaran cahaya di sekeliling mereka. Astra berusaha melawan, mengayunkan pedangnya, tetapi serangannya goyah, dan tubuhnya terpental ke tanah. Pedang Bintang sempat meredup, seolah ikut kehilangan semangat.
Melihat Astra terjatuh, Sasha menangkis serangan musuh dengan sinar biru terang. “Bangkit, Astra!” teriaknya. “Kau bukan lagi anak yang hanya menatap bintang. Kau adalah cahaya itu sendiri!” Kalimat itu menggema di kepala Astra, membuatnya perlahan bangkit kembali. Ia menggenggam pedangnya, memejamkan mata, dan membiarkan keyakinan mengalir melalui dirinya. Cahaya bintang menyala lagi, kali ini lebih terang, dan satu ayunan pedangnya memecah bayangan yang menyerangnya.
Setelah pertempuran itu, mereka berhasil melarikan diri dan beristirahat di sebuah gua kecil. Nafas Astra masih terengah-engah, dan wajahnya dipenuhi debu. “Aku gagal melindungi diriku sendiri,” katanya lirih. Sasha menatapnya dengan lembut, lalu berkata, “Setiap pahlawan selalu memulai dari kelemahan. Bahkan bintang tak bersinar terang dalam semalam.” Kata-kata itu menenangkan hatinya lebih dari apa pun.
Malam itu, di dalam gua yang diterangi cahaya lembut Pedang Bintang, Astra berjanji pada dirinya sendiri untuk menjadi lebih kuat. Ia menyadari bahwa menjadi “Yang Terpilih” bukan berarti sudah sempurna, melainkan berani untuk terus tumbuh. Di luar sana, bintang-bintang bersinar kembali seolah menyetujui tekad barunya.
Hari demi hari berlalu. Perjalanan panjang membawa Astra dan Sasha melintasi hutan-hutan asing, padang luas, hingga pegunungan berkabut yang seolah tak berujung. Di setiap tempat mereka singgahi, kabar tentang kegelapan yang menyebar semakin sering terdengar. Banyak desa kehilangan cahaya malam mereka; bintang-bintang di langit di atas wilayah itu benar-benar lenyap. Sasha mengatakan bahwa roh-roh bintang sedang tertidur karena kekuatan gelap semakin kuat. Astra hanya bisa menggenggam pedangnya erat, berharap suatu hari bisa mengembalikan cahaya itu.
Setiap pagi, Sasha melatih Astra dengan sabar. Ia mengajarinya cara menyeimbangkan napas, mengendalikan tenaga, dan menyatukan pikirannya dengan Pedang Bintang. Awalnya Astra sering gagal pedangnya terlalu berat, atau cahayanya malah meredup. Tapi sedikit demi sedikit, ia mulai mengerti bahwa kekuatan sejati tidak datang dari amarah atau keinginan membalas dendam, melainkan dari keyakinan dan ketenangan hati. “Kau tak sedang berperang dengan musuh, Astra,” kata Sasha lembut, “kau sedang berperang dengan keraguanmu sendiri.”
Suatu sore, mereka berhenti di tepi danau berair biru. Angin sejuk bertiup lembut, memantulkan langit di permukaannya. Sasha meminta Astra berlatih memusatkan cahaya dari pedang ke dalam air. Ia menutup mata, berusaha memanggil cahaya bintang. Awalnya hanya muncul kilau kecil, lalu perlahan cahaya itu tumbuh, membentuk riak berkilauan di permukaan danau. Saat membuka mata, Astra tertegun melihat air memantulkan cahaya yang seolah datang dari dalam dirinya sendiri. Sasha tersenyum puas. “Itu tandanya kau mulai menemukan keseimbanganmu.”
Malam harinya, mereka duduk di bawah langit yang mulai berawan. Bintang-bintang tampak redup, namun satu bintang di utara tetap bersinar terang. “Itu bintang penuntun,” kata Sasha sambil menatap ke atas. “Selama ia masih bersinar, harapan tidak akan padam.” Astra menatapnya diam-diam, merasa ada sesuatu dalam diri Sasha yang menyimpan kesedihan. Tapi ia tak berani bertanya. Ia hanya tahu, di balik senyum lembut perempuan itu, ada beban masa lalu yang berat.
Ketika malam semakin larut, Sasha menatap Astra dan berkata, “Ingat, cahaya pedangmu akan mengikuti hatimu. Jika kau ragu, ia meredup. Jika kau percaya, ia akan bersinar.” Astra mengangguk pelan. Dalam hati ia berjanji untuk tidak membiarkan keraguan menguasai dirinya lagi.
Beberapa minggu kemudian, mereka akhirnya tiba di pinggiran Moniyan Empire. Dari kejauhan, kota besar itu tampak muram. Menara kristal yang biasanya bersinar terang kini redup seperti kaca kusam, dan kabut hitam menggantung di langit. Jalanan sunyi, hanya terdengar suara langkah mereka berdua. Astra merasa bulu kuduknya berdiri ia bisa merasakan hawa kegelapan yang begitu kuat hingga membuat udara terasa berat.
Penduduk kota tampak ketakutan. Beberapa menutup jendela rapat-rapat, sementara yang lain bersembunyi di dalam rumah tanpa berani menyalakan lampu. Sasha berbicara dengan seorang penjaga tua di gerbang kota dan mengetahui bahwa sumber kabut hitam berasal dari reruntuhan kuil di barat tempat yang dulu menjadi pusat pemujaan cahaya. “Kegelapan telah menodai tempat suci itu,” kata sang penjaga. “Tak ada yang berani mendekat.”
Astra menatap reruntuhan dari kejauhan. Hatanya bergetar, campuran antara takut dan panggilan aneh yang menariknya ke arah sana. “Sasha,” katanya pelan, “aku merasa… sesuatu di sana menungguku.” Sasha hanya menatapnya sejenak sebelum mengangguk. “Kalau begitu, sudah waktunya kau menghadapi ujian pertamamu.”
Mereka berjalan menembus kabut yang semakin tebal. Suasana di sekitar kuil terasa menyeramkan patung-patung malaikat yang dulu bersinar kini retak dan tertutup lumut hitam. Begitu mereka melangkah ke dalam halaman utama, makhluk-makhluk bayangan muncul dari kegelapan, tubuh mereka melengkung seperti asap. Astra menghunus pedangnya, dan cahaya bintang langsung menyala. Pertempuran pun dimulai.
Kali ini, Astra tidak lagi gentar seperti sebelumnya. Ia mengingat latihan yang diajarkan Sasha, mengatur napasnya, dan membiarkan cahaya mengalir dari hatinya ke pedang. Setiap ayunan membentuk gelombang cahaya yang memotong bayangan menjadi abu. Meskipun jumlah musuh banyak, Astra terus bertarung dengan tekad kuat. Ketika pertempuran berakhir, ia berdiri terengah-engah di tengah cahaya pedangnya yang perlahan meredup, namun matanya berkilau bangga. Sasha menepuk bahunya pelan. “Kau sudah menemukan langkahmu, Astra. Kini kau benar-benar mulai menjadi pembawa cahaya.”
Setelah pertempuran di kuil, nama Astra mulai dikenal di antara para pengelana dan penjaga kota Moniyan. Mereka menyebutnya “Anak Cahaya” bocah yang mengayunkan pedang dari bintang dan memusnahkan bayangan dengan sekali tebas. Meski Astra tidak merasa pantas atas sebutan itu, di dalam hatinya tumbuh sedikit rasa bangga. Ia mulai menyadari bahwa langkah kecilnya kini berarti bagi banyak orang yang takut akan kegelapan.
Namun, kemenangan itu tidak bertahan lama. Beberapa hari kemudian, kabut hitam semakin meluas, menutupi separuh langit Moniyan. Sasha berkata bahwa itu adalah tanda bahwa Raja Bayangan telah bangkit dari tidurnya di Gerbang Kegelapan, tempat paling berbahaya di seluruh Land of Dawn. “Semua cahaya akan padam jika kita tidak menghentikannya,” ujar Sasha dengan suara serius. Astra menatap ke arah timur, di mana langit tampak hitam pekat, dan merasa ketakutan yang dalam, tapi juga dorongan kuat untuk melangkah ke sana.
Sebelum berangkat, rakyat Moniyan memberi mereka bekal dan doa. Seorang anak kecil bahkan memberikan bunga kecil pada Astra, berkata, “Untuk keberanianmu, Kak.” Astra tersenyum haru. Saat mereka meninggalkan kota, ia menoleh sekali lagi dan melihat warga melambai di kejauhan. Dalam hatinya, ia berjanji tidak akan mengecewakan harapan itu.
Perjalanan menuju Gerbang Kegelapan tidak mudah. Jalanan penuh dengan reruntuhan dan bayangan yang hidup. Kadang, mereka harus bersembunyi selama berjam-jam untuk menghindari makhluk hitam raksasa yang berpatroli. Hanya cahaya lembut dari Pedang Bintang yang menjaga mereka agar tidak hilang dalam kegelapan. Setiap malam, Astra berlatih lebih keras, menebas udara, mencoba menguatkan dirinya agar siap menghadapi sang raja kegelapan. Sasha, meski tampak tenang, sesekali menatap ke langit dengan wajah sedih seolah mengetahui bahwa pertempuran terakhir mungkin tak akan bisa mereka menangkan tanpa pengorbanan.
Di tengah perjalanan itu, mereka menemukan sebuah lembah yang dipenuhi kabut berwarna ungu. Di sana, makhluk bayangan muncul dalam jumlah tak terhitung. Pertempuran pun tak terelakkan. Sasha memanggil sihir bintang, menciptakan hujan cahaya, sementara Astra menari di antara musuh, pedangnya berkilau bagai kilat. Namun jumlah mereka terlalu banyak. Sasha akhirnya mengangkat tangannya dan mengeluarkan cahaya terakhir dari jubahnya, membuka jalan keluar bagi Astra. “Lari, Astra! Ini perintah!” teriaknya. Astra menolak, tapi Sasha menatapnya tegas. “Kau adalah harapan dunia ini!” Cahaya biru besar menyelimuti lembah itu, dan ketika sinar itu padam, hanya Astra yang tersisa.
Astra terjatuh di tepi jurang, tubuhnya penuh luka dan debu. Nafasnya terengah, sementara pikirannya masih menolak kenyataan bahwa Sasha telah lenyap. Air matanya mengalir tanpa henti, menetes di atas tanah yang dingin. “Kenapa harus dia yang melindungiku?” bisiknya pelan. Pedang Bintang di tangannya bergetar lembut, seolah menjawab kesedihannya. Ia menatap bilah pedang itu lama, lalu berbisik, “Aku tidak akan membiarkan pengorbanannya sia-sia.”
Ia melanjutkan perjalanan seorang diri. Angin di sekitar semakin dingin, dan langit benar-benar gelap tanpa satu pun bintang. Tapi di dalam hatinya, ia merasa cahaya kecil masih menyala cahaya dari semua orang yang percaya padanya, terutama dari Sasha. Langkah demi langkah, ia mendaki bukit terakhir yang mengarah ke Gerbang Kegelapan. Dari puncak, ia melihat gerbang raksasa menjulang tinggi, hitam pekat, dijaga ribuan makhluk bayangan yang melata seperti kabut hidup.
Ketakutan sempat menghampirinya. Tangannya gemetar, dan ia hampir ingin berbalik. Namun saat merogoh saku, ia menemukan jimat kecil pemberian kepala desa. Ia menggenggamnya erat, mengingat wajah orang-orang yang dulu meragukannya, dan orang-orang yang kini menaruh harapan padanya. “Aku bukan anak kecil yang lemah lagi,” ucapnya pelan, “Aku adalah pembawa cahaya.”
Dengan teriakan lantang, Astra berlari menembus barisan bayangan. Pedang Bintang bersinar terang, memancarkan cahaya yang menembus kabut gelap. Setiap tebasan menciptakan ledakan cahaya yang menghancurkan musuh di sekitarnya. Ribuan bayangan menyerbu, namun Astra tak berhenti. Ia menebas, melompat, berputar sampai seluruh tubuhnya berlumuran debu hitam. Langkahnya terus maju, tak tergoyahkan oleh rasa takut.
Setelah berhari-hari bertempur tanpa henti, akhirnya ia berdiri di depan Gerbang Kegelapan. Pintu raksasa itu terbuka perlahan dengan suara berat, memperlihatkan kegelapan murni di baliknya. Suara bergema keluar dari dalam, dalam dan dingin seperti malam tanpa akhir: “Jadi kau yang disebut Pembawa Cahaya?” Astra menggenggam pedangnya erat. “Aku bukan pembawa cahaya,” jawabnya, menatap ke dalam kegelapan. “Aku adalah cahaya itu sendiri.” Dengan langkah mantap, ia memasuki istana kegelapan, siap menghadapi takdirnya.
Di dalam istana kegelapan, udara begitu berat hingga sulit bernapas. Langit-langitnya menjulang tinggi, dihiasi batu-batu hitam yang berdenyut seperti jantung. Di tengah ruangan, duduk makhluk raksasa bermata merah menyala, tubuhnya seolah terbentuk dari malam itu sendiri. Dialah Raja Kegelapan, sumber dari semua kabut hitam yang menyelimuti Land of Dawn. Suaranya bergema ketika berbicara, dalam dan menakutkan. “Kau pikir, secercah cahaya kecil bisa menantang malam abadi?” ejeknya. Astra menatapnya tanpa gentar, meski rasa takut masih menyelinap di dadanya. “Selama ada harapan,” katanya lirih, “malam takkan pernah abadi.”
Pertarungan pun dimulai. Raja Kegelapan mengangkat tangannya, mengirimkan gelombang bayangan yang menggulung seperti badai hitam. Astra berlari, menangkis setiap serangan dengan Pedang Bintang yang kini bersinar sekuat matahari. Setiap kali pedangnya beradu dengan kekuatan kegelapan, ledakan cahaya dan kabut memenuhi ruangan. Tubuh Astra terpental beberapa kali, namun ia terus bangkit. Luka-luka mulai memenuhi tubuhnya, tapi tekad di matanya semakin menyala. Ia tahu, jika ia menyerah sekarang, seluruh dunia akan tenggelam dalam kegelapan.
Raja Kegelapan tertawa keras, suaranya menggetarkan seluruh istana. “Kau tak punya cukup kekuatan untuk mengalahkanku!” teriaknya sambil melepaskan serangan terakhir, gelombang bayangan raksasa yang bisa menghancurkan gunung. Astra memejamkan mata, mengingat semua perjalanan yang telah ia lalui—desa kecil Cadia, tawa teman-temannya, kepala desa yang memberinya jimat, dan Sasha, yang telah berkorban untuknya. Semua kenangan itu menyatu menjadi cahaya hangat di dadanya. “Kekuatan pedang ini datang dari hatiku,” ucapnya perlahan. “Dan hatiku tidak akan padam.”
Dengan teriakan penuh tekad, Astra mengangkat pedangnya tinggi. Cahaya bintang meledak dari tubuhnya, begitu terang hingga seluruh istana diselimuti cahaya putih menyilaukan. Gelombang kegelapan yang dikirim Raja Bayangan hancur, dan tubuh sang raja mulai retak, menguap menjadi debu hitam. Suara teriakan terakhirnya menggema sebelum lenyap, disapu cahaya suci yang membasuh seluruh Land of Dawn. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, langit kembali bersinar, dan bintang-bintang muncul satu per satu, menyinari dunia dengan damai.
Ketika cahaya mereda, Astra berdiri di tengah reruntuhan istana, tubuhnya lemah namun wajahnya tenang. Pedang Bintang kini berkilau lembut, tidak lagi menyala terang, melainkan beristirahat dalam kedamaian. Dari langit, seberkas cahaya turun perlahan, membentuk wujud Sasha yang tersenyum padanya. “Kau telah menepati takdirmu, Astra,” katanya lembut. Air mata menetes di pipi Astra, namun kali ini bukan karena kesedihan melainkan kebahagiaan. Ia menatap langit malam yang kembali dipenuhi bintang dan berbisik, “Terima kasih… aku akhirnya mengerti. Bintang tidak pernah benar-benar pergi, mereka hanya menunggu kita untuk percaya.”
---
_TAMAT_