Sepotong roti untuk pak penjaga
Pagi itu hujan turun deras. Siswa-siswa berlarian menuju kelas agar tidak basah. Di dekat gerbang sekolah, Pak Tono, penjaga sekolah, tampak menggigil sambil tetap membuka dan menutup gerbang untuk para murid.
Di antara kerumunan itu, Nadira, siswi kelas 8, berhenti sejenak. Ia memperhatikan Pak Tono yang terlihat sangatlah kedinginan. Hatinya tergerak. Di tasnya ada sepotong roti yang sebenarnya ingin ia makan untuk sarapan.
Ia pun menghampiri Pak Tono.
“Pak, ini roti saya. Bapak makan dulu ya, biar hangat,” katanya sambil tersenyum.
Pak Tono kaget. “Lho, kamu nanti tidak sarapan, Nak?”
“Tidak apa-apa, Pak. Saya masih kuat. Bapak dulu saja.”
Dengan tangan gemetar, Pak Tono menerima roti itu.
“Terima kasih, Nadira. Kamu anak baik.”
Nadira tidak mengharapkan pujian. Ia melangkah ke kelas dengan hati ringan. Namun tanpa ia sadari, perbuatannya dilihat oleh Bu Rani, guru BK yang baru tiba.
Saat jam istirahat, Bu Rani memanggil Nadira.
“Apa yang kamu lakukan pagi tadi sangat mulia. Akhlak itu bukan hanya tentang berkata baik, tapi juga peduli pada yang sering kita abaikan.”
Nadira tersenyum malu. “Saya cuma kasihan, Bu.”
Bu Rani kemudian menceritakan kejadian itu kepada seluruh kelas. Banyak siswa terinspirasi—di hari-hari berikutnya, ada yang membawa teh hangat untuk Pak Tono, ada yang membantunya mengangkat barang, bahkan ada yang menyapanya dengan ramah setiap pagi.
Ternyata, kebaikan sekecil roti bisa menumbuhkan lebih banyak kebaikan lainnya